Menjadi Perempuan Multiperan: Hebat karena Mampu atau Terpaksa karena Tuntutan?
Opini - Ada kalanya satu hari terasa terlalu singkat untuk menyelesaikan semua tanggung jawab. Pekerjaan harus diselesaikan, tugas kuliah menunggu untuk dikerjakan, sementara kehidupan rumah tangga juga membutuhkan perhatian. Semuanya sama-sama penting, tetapi waktu dan tenaga yang dimiliki tetap terbatas.
Saya mulai memahami situasi ini ketika harus menjalani tiga peran sekaligus: sebagai pekerja, mahasiswa, dan seorang istri. Ada keinginan untuk memberikan yang terbaik dalam setiap peran, tetapi ada juga rasa lelah ketika semuanya harus berjalan beriringan. Meski demikian, satu hal yang saya pelajari adalah bahwa sesuatu yang terasa berat bukan berarti tidak bisa dijalani.
Pengalaman tersebut membuat saya bertanya-tanya: ketika seorang perempuan mampu menjalankan banyak peran, apakah ia memang hebat karena mampu, atau sebenarnya sedang berusaha memenuhi berbagai tuntutan yang datang kepadanya?
Pertanyaan ini bukan untuk meragukan kemampuan perempuan. Justru, saya percaya perempuan memiliki kesempatan untuk belajar, bekerja, membangun keluarga, dan mengejar cita-citanya. Namun, kita perlu membedakan antara kemampuan yang patut diapresiasi dan tuntutan yang perlahan-lahan dianggap sebagai kewajiban.
Ketika perempuan dituntut untuk selalu bisa
Perempuan yang mampu bekerja, mengurus rumah tangga, dan tetap melanjutkan pendidikan sering kali dianggap hebat. Pujian tersebut tentu tidak salah. Namun, persoalan muncul ketika kemampuan itu membuat orang lain menganggap bahwa perempuan akan selalu sanggup melakukan semuanya.
Ketika pekerjaan selesai, ia dianggap bertanggung jawab. Ketika kuliah tetap berjalan, ia dianggap pandai mengatur waktu. Ketika rumah tangga terlihat baik-baik saja, ia dianggap mampu menjalankan perannya dengan sempurna. Akan tetapi, ketika mulai kewalahan, tidak jarang perempuan justru diminta untuk lebih pandai membagi waktu.
Padahal, tidak semua persoalan bisa diselesaikan hanya dengan manajemen waktu. Ada tanggung jawab yang membutuhkan bantuan orang lain, ada pekerjaan yang menyita energi, dan ada kebutuhan pribadi yang juga tidak boleh diabaikan.
Persoalan ini bukan sekadar pengalaman pribadi. Laporan Voluntary National Review 2025 yang disusun Kementerian PPN/Bappenas mencatat bahwa berdasarkan data Sakernas Agustus 2023 yang diolah Prospera, sebanyak 62,3 persen perempuan bekerja menjadi pihak yang terutama bertanggung jawab atas pekerjaan rumah tangga, dibandingkan dengan 37,7 persen laki-laki. Data tersebut menunjukkan bahwa pembagian tanggung jawab domestik masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.
Temuan ini tidak berarti setiap keluarga memiliki kondisi yang sama. Namun, angka tersebut mengingatkan kita bahwa tantangan perempuan dalam menjalankan berbagai peran tidak selalu disebabkan oleh kurangnya kemampuan mengatur waktu. Pembagian tanggung jawab di rumah juga ikut menentukan seberapa besar ruang yang dimiliki perempuan untuk berkembang.
Karena itu, menurut saya, kita tidak cukup hanya mengagumi perempuan yang mampu melakukan banyak hal. Kita juga perlu bertanya apakah mereka mendapatkan dukungan yang memadai untuk menjalankan semua tanggung jawab tersebut.
Menikah bukan berarti berhenti bermimpi
Baca Juga
Menjalani Kuliah di Reguler C Universitas Pamulang: Belajar Mengatur Waktu, Menempa KetangguhanBagi perempuan yang sudah menikah, menjalani berbagai peran bisa menghadirkan tantangan tersendiri. Ada tanggung jawab baru yang perlu diperhatikan, tetapi ada pula cita-cita yang sudah dibangun jauh sebelum pernikahan.
Saya percaya bahwa menikah bukan berarti berhenti menjadi pribadi yang ingin terus belajar dan berkembang. Seorang perempuan tetap memiliki hak untuk mengejar pendidikan, membangun karier, atau mengembangkan usaha setelah menikah. Keinginan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa ia mengabaikan keluarga.
Sebaliknya, menjadi istri juga bukan peran yang harus dianggap sebagai penghalang bagi cita-cita. Pernikahan dan pengembangan diri dapat berjalan berdampingan, meskipun keduanya membutuhkan komunikasi, penyesuaian, dan komitmen.
Dalam pengalaman saya, membagi waktu antara pekerjaan, kuliah, dan rumah tangga memang tidak selalu mudah. Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan, ada waktu yang perlu diatur kembali, dan ada kalanya saya harus menentukan mana yang perlu didahulukan.
Alhamdulillah, saya memiliki suami yang mendukung dan membantu dalam setiap prosesnya. Dukungan tersebut tidak membuat semua kesulitan menghilang, tetapi membuat perjalanan yang berat terasa lebih ringan. Saya belajar bahwa menjalani banyak peran bukan berarti harus menanggung semuanya sendirian.
Dari pengalaman itu, saya semakin percaya bahwa rumah tangga seharusnya menjadi ruang bagi kedua pihak untuk bertumbuh. Dukungan pasangan bukan hanya tentang memberikan izin untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan, melainkan juga tentang kesediaan untuk mendengarkan, berbagi tanggung jawab, dan mencari jalan keluar ketika salah satu sedang mengalami kesulitan.
Tentu, pengalaman saya tidak mewakili semua perempuan. Ada yang mendapatkan dukungan penuh dari pasangan, ada yang masih berjuang mendapatkan pengertian, dan ada pula yang memilih untuk memprioritaskan keluarga dengan cara berbeda. Setiap keadaan memiliki tantangannya sendiri. Yang penting, perempuan tetap memiliki ruang untuk menentukan pilihan hidupnya tanpa harus merasa bersalah karena mempunyai cita-cita.
Beban yang tidak selalu terlihat
Tanggung jawab yang dijalankan perempuan juga tidak selalu terlihat oleh orang lain. Ada pekerjaan yang tampak hasilnya, ada tugas kuliah yang bisa dinilai, tetapi ada pula tanggung jawab rumah tangga yang sering dianggap biasa meskipun membutuhkan waktu dan tenaga.
International Labour Organization (ILO), dalam artikel “Women still struggle to juggle paid work and unpaid care work” pada 12 Agustus 2024, mengangkat pengalaman perempuan Indonesia yang harus menggabungkan pekerjaan berbayar dengan pekerjaan pengasuhan dan rumah tangga yang tidak dibayar. Artikel tersebut memperlihatkan bagaimana pekerjaan perawatan dapat menyita waktu secara signifikan dan menghambat perempuan memenuhi kebutuhan dirinya sendiri.
Persoalan ini juga berkaitan dengan kesempatan perempuan untuk berkembang dalam dunia kerja. Dalam laporan “Care burdens still hinder Indonesian women’s career advancement” yang diterbitkan pada 9 Maret 2026, ILO memaparkan survei bersama Indonesia Business Coalition for Women Empowerment terhadap 493 responden dari berbagai tingkat manajemen. Sebanyak 42,1 persen responden manajemen puncak dan 47,1 persen responden manajemen senior menyebut tanggung jawab pengasuhan sebagai hambatan utama kemajuan karier perempuan.
Survei tersebut berfokus pada sejumlah sektor industri sehingga tidak dapat dianggap mewakili seluruh perempuan Indonesia. Namun, temuan itu menunjukkan bahwa tanggung jawab keluarga dapat berpengaruh terhadap kesempatan perempuan untuk berkembang dalam pekerjaan.
Dari berbagai temuan tersebut, saya melihat bahwa persoalan perempuan multiperan tidak cukup dijawab dengan nasihat agar perempuan lebih kuat, lebih sabar, atau lebih pandai mengatur waktu. Dukungan dari pasangan, keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat juga diperlukan.
Pekerjaan rumah tangga perlu dibicarakan dan dibagi secara adil sesuai kondisi masing-masing. Tempat kerja perlu memberi kesempatan yang setara bagi perempuan untuk berkembang. Lingkungan sosial pun perlu berhenti mengukur keberhasilan perempuan hanya dari seberapa banyak tanggung jawab yang mampu diselesaikannya.
Perempuan juga perlu memahami bahwa dirinya memiliki batas. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Beristirahat bukan berarti malas. Menyesuaikan prioritas bukan berarti menyerah pada cita-cita. Ada kalanya perjalanan menuju tujuan memang membutuhkan waktu lebih panjang, dan itu tidak membuat usaha seseorang menjadi kurang berharga.
Bukan tentang melakukan semuanya dengan sempurna
Saya tidak menganggap menjalani banyak peran sebagai sesuatu yang harus dihindari. Ada kebahagiaan ketika seseorang dapat terus belajar, bekerja, membangun keluarga, dan mengembangkan potensinya. Namun, saya juga tidak ingin kemampuan perempuan menjalankan berbagai tanggung jawab dijadikan alasan untuk membebankan lebih banyak hal kepadanya.
Setiap perempuan memiliki pilihan, keadaan, dan batas kemampuan yang berbeda. Ada yang memilih fokus pada keluarga, ada yang melanjutkan pendidikan, ada yang membangun karier, dan ada pula yang menjalani semuanya secara bersamaan. Tidak seharusnya satu pilihan dianggap lebih hebat daripada pilihan lainnya.
Bagi saya, menjadi perempuan multiperan bukan tentang membuktikan bahwa kita mampu melakukan semuanya tanpa mengeluh. Ini tentang belajar menjalani tanggung jawab dengan sebaik mungkin, tetap memiliki ruang untuk berkembang, dan memahami bahwa kita tidak harus selalu sempurna.
Karena itu, ketika melihat seorang perempuan mampu menjalankan banyak peran, jangan hanya bertanya, “Bagaimana dia bisa melakukan semuanya?” Cobalah bertanya juga, “Apakah dia memiliki cukup dukungan untuk menjalaninya?”
Barangkali, perempuan memang hebat karena mampu. Namun, kemampuan itu tidak seharusnya membuat orang lain lupa bahwa ia juga bisa lelah, membutuhkan bantuan, dan berhak memiliki waktu untuk dirinya sendiri.
Pada akhirnya, perempuan tidak harus kehilangan cita-citanya setelah menikah, dan ia juga tidak harus membuktikan kekuatannya dengan menanggung semuanya sendirian.
Perempuan berhak terus bertumbuh, sementara keluarga dan lingkungan seharusnya menjadi bagian dari dukungan yang membantunya melangkah, bukan tuntutan yang membuatnya merasa harus berjuang sendirian.
Penulis: Siva Oktavianti
Mahasiswa Program Studi Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Pamulang Kampus Serang
Admin Article
Dipublikasikan 23 Oct 2026 untuk Logistax Newsroom
Artikel Terkait
Lihat semua →